MotoGP Lovers Indonesia - Bos Honda Racing Corporation (HRC), Livio
Suppo mengatakan bahwa Casey Stoner mempunyai talenta yang fenomenal.
Kecepatannya saat beratraksi bersama Tim Repsol Honda tak diragukan
menyumbang kekuatan dan mencerahkan image pabrikan yang berasal dari
Negeri Sakura tersebut.
Casey Stoner telah mendominasi persaingan di MotoGP pada musim
2011 dengan merebut 10 kemenangan dari 17 balapan yang diselenggarakan.
Dari ke-17 seri balap MotoGP 2011, The Aussie hanya kehilangan satu
moment untuk berdiri di atas podium, yakni pada saat gagal finish
setelah terlibat insiden dengan Valentino Rossi pada putaran Jerez.
Performa Casey selalu dihubung-hubungkan dengan penampilan Valentino
Rossi saat membalap di dalam Tim Ducati, karena pada tahun ini merupakan
musim pertama keduanya bergbung ke dalam tim yang baru.
Casey
Stoner juga kerap dibanding-bandingkan dengan para rival utamanya, yakni
Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa. Meskipun Lorenzo dan Pedrosa cukup lama
mengenal tunggangan mereka, pengalaman tersebut tak mampu menjegal
dominasi Casey Stoner yang kembali harus beradaptasi menunggangi motor
Honda.
Livio Suppo yang pernah menjabat sebagai bos Ducati
mengatakan, “Dari awal dia bergabung dengan HRC, dia merupakan pembalap
yang sangat cepat. Saya pikir ini memberikan para insinyur banyak
motivasi dan juga kontribusi di dalam perusahaan. Saya kira sebagian
besar orang-orang di paddock menyadari ini pada tahun 2008 dan 2010
bahwa Casey tak hanya cepat karena ban Bridgestone dan mesin Ducati.
“Sekarang dengan hasil yang kami dapatkan pada tahun ini dan
(membandingkannya dengan) Valentino Rossi saat berada di Ducati., sudah
jelas tingkat kemampuan yang dimiliki Casey dan saya pikir mustahil
untuk tidak menyadari betapa cepat dirinya. Baik Jorge Lorenzo maupun
Dani Pedrosa punya pengalaman yang lama terhadap mesin yang mereka pakai
dan bagi Casey dan timnya (Honda) semuanya baru.
“Mungkin ia
kehilangan poin karena suatu hal. Tetapi poin kosong yang diterimanya di
Jerez bukan merupakan kesalahannya, jadi ia melakukan kerja yang bagus.
Dia menyelesaikan tugas dengan super, tak membuat kesalahan yang
semuanya nampak tak bisa dipercaya.”
MotoGP Lovers Indonesia - Bos Honda Racing Corporation (HRC), Livio Suppo mengatakan bahwa Casey Stoner mempunyai talenta yang fenomenal. Kecepatannya saat beratraksi bersama Tim Repsol Honda tak diragukan menyumbang kekuatan dan mencerahkan image pabrikan yang berasal dari Negeri Sakura tersebut.
Casey Stoner telah mendominasi persaingan di MotoGP pada musim 2011 dengan merebut 10 kemenangan dari 17 balapan yang diselenggarakan. Dari ke-17 seri balap MotoGP 2011, The Aussie hanya kehilangan satu moment untuk berdiri di atas podium, yakni pada saat gagal finish setelah terlibat insiden dengan Valentino Rossi pada putaran Jerez.
Performa Casey selalu dihubung-hubungkan dengan penampilan Valentino Rossi saat membalap di dalam Tim Ducati, karena pada tahun ini merupakan musim pertama keduanya bergbung ke dalam tim yang baru.
Casey Stoner juga kerap dibanding-bandingkan dengan para rival utamanya, yakni Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa. Meskipun Lorenzo dan Pedrosa cukup lama mengenal tunggangan mereka, pengalaman tersebut tak mampu menjegal dominasi Casey Stoner yang kembali harus beradaptasi menunggangi motor Honda.
Livio Suppo yang pernah menjabat sebagai bos Ducati mengatakan, “Dari awal dia bergabung dengan HRC, dia merupakan pembalap yang sangat cepat. Saya pikir ini memberikan para insinyur banyak motivasi dan juga kontribusi di dalam perusahaan. Saya kira sebagian besar orang-orang di paddock menyadari ini pada tahun 2008 dan 2010 bahwa Casey tak hanya cepat karena ban Bridgestone dan mesin Ducati.
“Sekarang dengan hasil yang kami dapatkan pada tahun ini dan (membandingkannya dengan) Valentino Rossi saat berada di Ducati., sudah jelas tingkat kemampuan yang dimiliki Casey dan saya pikir mustahil untuk tidak menyadari betapa cepat dirinya. Baik Jorge Lorenzo maupun Dani Pedrosa punya pengalaman yang lama terhadap mesin yang mereka pakai dan bagi Casey dan timnya (Honda) semuanya baru.
“Mungkin ia kehilangan poin karena suatu hal. Tetapi poin kosong yang diterimanya di Jerez bukan merupakan kesalahannya, jadi ia melakukan kerja yang bagus. Dia menyelesaikan tugas dengan super, tak membuat kesalahan yang semuanya nampak tak bisa dipercaya.”